“Kejujuran. Tinggal itu Mas harta yang saya punya. Saya orang miskin, kalau saya tidak menjaga saya punya kejujuran, nanti saya malahan tambah susah,” ucap Bang Zaenal, tukang sapu di Danajaya Building, Jakarta Timur.
Ia menemukan dompet yang dia bahkan engga berani melihat seberapa banyak isinya untuk kemudian ia pulangin dompet tersebut.
Kejujuran dianggap harta. Hebat! Sekarang, banyak orang yang tidak lagi menganggap kejujuran sebagai harta yang harus dijaga dan dirawat.
Begini, kenapa mobil Jaguar jarang yang punya? Karena ia mahal kan?
Di antara sekian jenisnya ada yang nembus angka satu milyar rupiah untuk dapat membelinya. Begitu juga dengan nama-nama top di ‘permobilan’.
Kita mengenal nama-nama BMW, Mercy, Audi yang semuanya masih merupakan barang super mewah bagi kebanyakan orang.

Nah, mungkin, kejujuran pun seperti merk-merk mobil terkenal tersebut. Ia semakin jarang yang punya. Karena apa?
Karena ia masih merupakan ‘barang mewah’. Butuh pengorbanan untuk hidup dengan jujur.
Rasa takut miskin, takut hidup menjadi susah, takut dagang jadi tidak untung, takut engga bakalan bisa begini dan begitu, bila jujur, adalah di antara yang harus dikorbankan. Dan nyatanya tidak semua orang bisa.
Terutama bagi orang-orang yang ‘ngotot’ memiliki dunia.
Berbahagialah orang-orang seperti Bang Zaenal, yang masih memiliki kejujuran. Sebab berarti dialah yang sesungguhnya kaya. Dia tidak memerlukan kebohongan untuk menjadikan dirinya senang dan kaya. Dia sudah cukup merasa kaya, dengan apa yang bisa diterimanya dari Allah.
Merasa cukup, dan hidup sederhana, insya Allah akan dimudahkan Allah ‘tuk memelihara kejujuran.









0 komentar:
Posting Komentar